AI Mulai Ambil Alih Rekrutmen: Apakah HR Harus Takut?

Bagikan Artikel

Oleh: Finley Eiwan Franklin Zaluchu*)

Selama ini proses rekrutmen dikenal lama dan melelahkan. Perusahaan menerima ratusan bahkan ribuan lamaran, HR harus membaca satu per satu, lalu masih harus mengatur jadwal wawancara. Akhirnya banyak kandidat menunggu berbulan-bulan tanpa kepastian, sementara HR sendiri kewalahan dengan pekerjaan teknis.

Sekarang muncul pemain baru yang mengubah semuanya: Artificial Intelligence (AI) atau akal imitasi. Di banyak perusahaan besar di dunia, AI tidak lagi hanya dipakai sebagai alat bantu, tetapi benar-benar menangani proses rekrutmen dari awal sampai akhir.

Laporan McKinsey 2023 menunjukkan penggunaan AI di bidang SDM naik hampir tiga kali lipat hanya dalam dua tahun. Penelitian Gartner juga menemukan 35 persen perusahaan global sudah memakai AI untuk menyaring CV dan melakukan interviu awal. Artinya, sebagian besar proses yang dulu dilakukan HR, kini diambil alih mesin.

Ini bukan sekadar otomatisasi biasa. Ini perubahan besar dalam cara perusahaan menilai kandidat.

Pertama, AI mengurus penyaringan CV.

Jika HR butuh beberapa hari untuk membaca 500 CV, AI bisa menyelesaikannya dalam hitungan menit. HR cukup memasukkan kriteria, lalu mesin langsung memilih siapa yang cocok dan siapa yang tidak. Masalah klasik seperti pelamar yang asal kirim CV juga bisa tersaring otomatis. Di sini keunggulan AI terlihat: ia bisa bekerja cepat dan konsisten tanpa lelah. Setidaknya, secara teori.

Kedua, AI mengambil alih wawancara awal.

Bagian ini dulunya sangat bergantung pada HR karena melibatkan tatap muka. Tapi sekarang AI bisa mewawancarai banyak orang sekaligus. Hasilnya dianalisis berdasarkan cara bicara, konsistensi jawaban, dan pola bahasa. Forbes menyebut penggunaan AI untuk wawancara bisa mempersingkat waktu rekrutmen hingga 70 persen.

Namun masalahnya jelas: AI tidak punya intuisi. Jawaban yang terdengar rapi belum tentu datang dari kandidat yang benar-benar kompeten. Sebaliknya, kandidat bagus bisa tampak kurang meyakinkan hanya karena gugup berbicara dengan mesin.

Ketiga, AI mengubah posisi HR secara besar-besaran.

Setelah penyaringan dan wawancara awal, HR hanya menerima laporan berupa skor dan ringkasan perilaku kandidat. Di titik ini, peran HR berubah: bukan lagi pelaksana teknis, melainkan penentu akhir. Pertanyaannya, apakah ini cukup aman?

Jika HR hanya menerima hasil mentah dari mesin tanpa memahami cara kerjanya, perusahaan bisa saja mengambil keputusan penting berdasarkan sistem yang belum sempurna. Gartner mencatat AI generatif masih memiliki tingkat kesalahan 15–20 persen saat menilai perilaku. Angka itu terlalu besar untuk dijadikan dasar memilih karyawan.

AI Tidak Menggeser HR, Tapi HR Bisa Tergeser Jika Tidak Berubah

Faktanya, AI bukanlah musuh HR. Musuh terbesar HR adalah ketidakmampuan memahami cara kerja AI. Agar hasil rekrutmen tidak salah arah, HR harus bisa memberi instruksi yang jelas (prompting) dan memahami batasan-batasan AI. Jika tidak, AI bisa memberi rekomendasi kandidat yang tidak relevan atau bahkan bias.

AI bisa menjadi alat rekrutmen yang sangat efisien, tetapi juga bisa membuat kesalahan besar jika tidak diawasi.

Yang Dibutuhkan HR Bukan Melawan, Tapi Beradaptasi

AI bisa menyaring dan mewawancarai, tetapi ia tidak bisa membaca emosi manusia, tidak bisa menilai karakter, tidak paham budaya perusahaan, dan tidak bertanggung jawab ketika keputusan itu berdampak buruk.

Di sinilah manusia tetap dibutuhkan.

Peran HR bergeser dari pekerjaan administratif ke pekerjaan yang lebih strategis: memastikan keputusan rekrutmen tetap manusiawi, objektif, dan sesuai kebutuhan perusahaan.

AI memang membuat proses rekrutmen lebih cepat dan lebih murah. Tapi ini tidak berarti posisi HR hilang. HR hanya akan tergeser jika tidak mau belajar dan menyesuaikan diri.

Tugas HR sekarang bukan lagi menyortir CV atau mengatur jadwal wawancara, tetapi memastikan AI bekerja dengan benar dan tidak salah arah.

AI mempercepat proses. HR memastikan tujuan. Tanpa keseimbangan keduanya, perusahaan bisa bergerak cepat—tapi menuju arah yang salah

*) Penulis adalah mahasiswa Prodi Computer Science Universitas Bina Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *