Oleh: Finley Eiwan Franklin Zaluchu*)
Bayangkan sebuah dunia di mana perusahaan bisa berjalan sendiri, tanpa karyawan manusia – itu bukan fiksi, itu realitas AI agentik. Revolusi industri 5.0 telah membawa kita ke era di mana ide saja cukup untuk merealisasikan inovasi, berkat kemajuan teknologi seperti Internet of Things, Big Data, dan Artificial Intelligence.
Selama ini, AI telah menjadi bagian dari hidup kita, mulai dari sistem otomatis sederhana hingga asisten digital yang membantu pekerjaan sehari-hari. Namun, era sekarang berbeda: AI tidak lagi sekadar alat. AI telah menjadi agen otonom, sistem yang mampu berpikir, belajar, dan mengambil keputusan tanpa campur tangan manusia.
Konsep ini bukan hal baru. Pada 31 Agustus 1955, J. McCarthy dan timnya menulis proposal studi yang membayangkan mesin yang mampu memecahkan masalah sendiri dan memperbaiki kekurangannya. Puluhan tahun kemudian, visi itu terwujud melalui sistem seperti ChatGPT, Gemini, dan AI berbasis bahasa lain yang dapat belajar mandiri dan memecahkan masalah kompleks.
Michael Wooldridge dan Nicholas R. Jennings (1994) mengklarifikasi definisi agen: AI yang tidak menunggu perintah, tetapi mampu menjalankan tugas sesuai tujuan dan konteksnya. Contoh terkini adalah OpenClaw, AI yang bisa memesan tiket, menjadwalkan rapat, memberikan saran strategi, dan memecahkan masalah dengan efisiensi luar biasa – semua otomatis.
Di dunia industri, kita melihat dua model penerapan AI:
- AI-Driven Enterprise – AI berperan di area tertentu, seperti tim marketing atau administrasi, masih membutuhkan manusia untuk menilai hasil dan memberi arahan.
- Agentic Enterprise – AI mengelola perusahaan sepenuhnya. Cukup sebuah ide cemerlang, dan AI akan mengeksekusinya dari awal hingga realisasi. Konsep ini mengubah paradigma inovasi: ide, bukan tenaga manusia, menjadi kunci sukses.
OpenClaw adalah bukti bahwa kemampuan manusia bisa digantikan. Perusahaan yang menolak AI berisiko tertinggal, sementara mereka yang mampu berkolaborasi dengan AI memegang kendali atas masa depan. Di era agentic AI, inovasi bukan lagi sekadar konsep – itu adalah kenyataan yang bisa dicapai dengan satu ide dan satu komputer yang cukup kuat.
Pertanyaannya: Apakah kita siap memanfaatkan AI sebagai partner, atau hanya akan diam dan tersingkir oleh kecanggihan teknologi? Mereka yang menguasai AI hari ini adalah pemimpin masa depan. Tidak ada waktu untuk menunggu.
*) Penulis adalah mahasiswa Prodi Computer Science Universitas Bina Nusantara
