Medan, Bonarinews.com — Banjir selalu datang dengan cara yang sama: tiba-tiba, senyap, dan menyisakan kepanikan. Begitu pula yang terjadi di Medan pada Kamis pagi itu. Hujan yang tak kunjung reda semalaman berubah menjadi genangan luas, merambat ke gang-gang sempit dan kawasan padat penduduk. Dalam hitungan jam, rumah-rumah terendam, aktivitas lumpuh, dan warga mulai mencari jalan keluar yang aman.
Di tengah situasi yang memburuk, Polda Sumatera Utara bergerak cepat. Ditsamapta mengerahkan puluhan personel untuk menyisir sejumlah titik banjir, mulai dari Kampung Aur, Brayan, Padang Bulan, hingga Sunggal. Masing-masing tim dipimpin langsung perwira di lapangan agar proses evakuasi berjalan cepat dan terkoordinasi.
Tantangan tidak kecil. *Ketinggian air di beberapa lokasi sudah lebih dari satu meter. Jalanan berubah menjadi arus air yang tidak bisa diprediksi. Petugas harus menembusnya menggunakan perahu karet, kano, hingga rantis rescue, sambil mengenakan life jacket dan helm keselamatan. Semua dilakukan agar mereka bisa mencapai warga yang terjebak di dalam rumah, terutama anak-anak, lansia, dan keluarga yang tak lagi punya jalur keluar.
Di atas perahu itulah kesan-kesan kemanusiaan muncul. Ada ibu yang terus menggendong bayinya agar tidak terkena air, ada kakek yang tetap memegang tongkatnya meskipun tangannya bergetar karena dingin, dan ada anak-anak yang tak lagi menangis hanya karena merasa lega ketika melihat seragam polisi datang menolong.
Cuaca tidak berpihak. Hujan masih turun, udara semakin dingin. Namun petugas tetap bergerak dari satu rumah ke rumah lain. Mereka tahu, setiap menit berarti dalam situasi seperti ini. Peralatan SAR air mereka—LCR, kano, helm, dan jaket pelampung—menjadi penyambung keselamatan bagi warga yang sudah putus harapan.
Yang menarik, bantuan itu tidak hanya menenangkan warga, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya kesiapsiagaan di tengah lingkungan kota yang semakin rentan bencana. Di Medan, seperti juga banyak kota besar lainnya, drainase yang tak memadai dan sedimentasi sungai sering kali menjadi alasan mengapa banjir cepat datang dan lambat surut.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan menegaskan keselamatan warga adalah prioritas utama. Pernyataannya terasa tidak sekadar formalitas. Tim di lapangan benar-benar memastikan evakuasi tidak hanya cepat, tapi juga aman. Selama kondisi belum membaik, Polda Sumut tetap bertahan di lokasi-lokasi rawan sambil memantau perkembangan.
Banjir hari itu menjadi alarm, bencana tidak mengenal waktu. Ia bisa datang saat kita sedang beraktivitas, bekerja, atau bahkan tertidur. Namun ketika bencana datang, kita kembali belajar bahwa solidaritas—antara aparat, relawan, dan warga—adalah benteng pertama yang menyelamatkan banyak nyawa.
Medan mungkin belum benar-benar pulih. Air masih tinggi di beberapa titik, dan warga masih membutuhkan bantuan. Namun setidaknya, hari itu, ada perahu-perahu kecil yang bergerak melawan derasnya air, membawa harapan di tengah kecemasan.
Dan itu cukup untuk membuat banyak orang merasa: mereka tidak sendirian. (Redaksi)
