Oleh: Devilaria Damanik
Beberapa bulan terakhir, saya menyaksikan betapa giatnya masyarakat di Jara-Jara, Halmahera Timur, dalam mengelola kelapa. Hampir setiap warga yang memiliki kebun, pasti memiliki pohon kelapa. Bagi mereka, kelapa bukan sekadar tanaman—tapi sumber utama penghidupan dan denyut ekonomi desa.
Kelapa tua atau kelapa kering biasanya diolah menjadi kopra, hasil utama dari perkebunan kelapa. Untuk satu kali panen, butuh waktu sekitar tiga bulan. Prosesnya melibatkan gotong royong; mulai dari menurunkan kelapa dari batang, membelah, hingga memisahkan daging dari tempurung. Setiap pekerja diupah berdasarkan jumlah karung kopra yang mereka hasilkan.
Tempurung dan kulit kelapa yang dahulu dibakar untuk mengasapi daging kelapa, kini justru punya nilai ekonomi baru. Beberapa pembeli mulai menampung arang tempurung, membuka peluang kerja baru bagi warga.
Kini, selain membuat kopra, masyarakat juga memisahkan tempurung dari sabutnya untuk dijadikan arang. Harga jual arang tempurung mencapai Rp8.000–Rp9.000 per kilogram, sedangkan kopra berkisar Rp12.000–Rp15.000 per kilogram di tingkat agen desa.
Namun, di balik limpahan hasil bumi ini, kesejahteraan petani kopra belum benar-benar terwujud. Saat musim panen, uang memang berputar. Tapi setelah itu, banyak warga kembali ke rutinitas menunggu panen berikutnya.
Banyak pemuda desa memilih bertahan di kampung karena merasa cukup dengan hasil kebun dan laut. Saat tak ada panen, mereka melaut untuk mencari ikan atau sekadar mencari hiburan dengan minum tuak—air nira dari pohon aren yang difermentasi. “Minum untuk bersenang-senang, untuk pertemanan, atau menenangkan pikiran,” kata salah seorang pemuda.
Padahal, seperti halnya kelapa yang setiap bagiannya memiliki manfaat—dari batang, daun, sabut, tempurung, hingga air dan daging buahnya—manusia pun seharusnya bisa berfungsi lebih luas. Tidak hanya bekerja keras, tetapi juga berpikir cerdas.
Pramoedya Ananta Toer pernah menulis, “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?”
Sayangnya, dari sekian banyak potensi di desa ini, belum banyak anak muda yang berani menjadi penggerak bisnis kopra atau produk turunan kelapa lainnya. Padahal, peluang terbuka lebar—pasokan melimpah, pembeli banyak, dan pasar jelas. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai.
Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan program Koperasi Merah Putih. Semoga inisiatif ini bisa hadir juga di desa-desa seperti Jara-Jara, membantu masyarakat yang bekerja keras agar tak hanya hidup, tapi juga makmur.
Karena sesungguhnya, untuk sekadar hidup cukup tubuh yang bekerja. Tapi untuk benar-benar makmur—dibutuhkan pikiran yang berani dan cerdas. (*)

Lanjut Dev…. 💪