Louis Zefanya Rafael Sitorus: Atlet NPC Raih Medali Perak, Berenang Melawan Batas

Bagikan Artikel

Bonarinews.com | Medan — Di balik sorak kemenangan di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (6/11/2025), terselip kisah luar biasa dari seorang remaja Medan yang berjuang melampaui keterbatasan. Namanya Louis Zefanya Rafael Sitorus, siswa kelas 2 SMP Methodist 5 Medan, sekaligus atlet renang muda paralimpik yang berhasil mempersembahkan dua medali perak bagi kontingen NPC Sumatera Utara pada ajang Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) XI/2025.

Di nomor 50 meter gaya bebas dan 100 meter gaya bebas S7–S10 putri, Louis mencatat waktu masing-masing 35,18 detik dan 1:21,37 detik. Hasil gemilang ini terasa semakin istimewa karena ia harus bersaing dengan atlet-atlet senior yang berusia jauh di atasnya—bahkan hingga 19 tahun.

Anak Medan yang Tak Menyerah pada Takdir

Usai kompetisi, Jumat (7/11/2025) malam, rombongan tim Para Renang Sumut tiba kembali di Medan. Di Jalan Cangkir, Louis turun dari bus NPC sambil membawa koper kecil berisi pakaian dan satu medali kebanggaan. Ayahnya, Deni Josua Sitorus, sudah menunggunya di pinggir jalan. Begitu melihat putranya, senyum bangga terpancar. Louis naik ke boncengan motor ayahnya, pulang dengan hati penuh syukur.

Di sepanjang perjalanan, ia masih sempat berkata pelan, Saya ingin menjadi atlet internasional. Kalimat sederhana itu terdengar seperti janji yang ia tanamkan dalam dirinya.

Louis adalah anak sulung dari dua bersaudara. Sejak kecil, ia dikenal aktif dan penuh semangat. Namun, hidup memberinya ujian berat di usia 3 tahun. Saat bermain di dekat mesin peremuk batang tebu, tangannya secara tak sengaja tersangkut hingga harus diamputasi. Peristiwa itu mengubah hidupnya—tapi bukan semangatnya.

Dari Kolam ke Panggung Nasional

Bagi Louis, air bukan sekadar tempat berlomba, tapi ruang kebebasan. Di dalam kolam, ia tak merasa berbeda. Setiap ayunan tangan kirinya dan gerakan kaki yang kuat menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan kekuatan.

Bergabung bersama National Paralympic Committee (NPC) Sumatera Utara, Louis terus berlatih dengan tekun di bawah bimbingan pelatih yang memahami semangat dan potensinya. Ia sering kali menjadi peserta termuda dalam turnamen, namun justru tampil penuh percaya diri.

Louis tidak mudah menyerah. Dia punya mental juara. Setiap kali kalah, dia bilang ‘saya mau coba lagi,’ ujar salah satu pelatih NPC Sumut yang mendampinginya.

Menatap Masa Depan: Bali dan NTB

Meski baru berusia belasan tahun, Louis sudah menatap dua ajang besar berikutnya. Tahun 2027, ia akan kembali turun di Peparpenas di Bali, dan pada 2028, ia siap menantang diri di Pekan Olahraga Nasional (PON) di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bagi Louis, setiap pertandingan bukan hanya soal medali, tapi tentang membuktikan bahwa mimpi tak pernah mengenal kata “tidak.”

Inspirasi dari Medan untuk Indonesia

Kisah Louis menjadi bukti bahwa semangat pantang menyerah bisa mengubah luka menjadi kekuatan. Dari seorang anak yang kehilangan tangan karena kecelakaan, kini ia menjelma menjadi simbol harapan bagi banyak anak penyandang disabilitas di Indonesia.

Louis Zefanya Rafael Sitorus bukan hanya peraih medali perak. Ia adalah pembawa pesan, bahwa setiap keterbatasan bisa ditaklukkan dengan tekad, kerja keras, dan cinta dari keluarga yang tak pernah berhenti percaya.

Dan siapa tahu, suatu hari nanti, bendera Merah Putih akan berkibar di ajang internasional — bersama nama Louis Zefanya Rafael Sitorus, sang atlet muda yang berenang melawan batas. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *