Kerusuhan di Inggris : Penjara dan Protes Menyusul Kekacauan di Southport

Bagikan Artikel

LONDON, Bonarinews.com — Inggris tengah mengalami ketegangan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah serangkaian kerusuhan yang dipicu oleh serangan tragis di Southport. Dalam perkembangan terbaru, John O’Malley, 43 tahun, dari Cambridge Gardens, Southport, dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan oleh Pengadilan Crown Liverpool setelah mengaku terlibat dalam kekacauan di Southport pada Selasa, 30 Juli.

Ketegangan yang Memuncak

O’Malley, yang diidentifikasi melalui rekaman video kekacauan di St Luke’s Road, dijatuhi hukuman oleh Hakim Andrew Menary KC. Hakim Menary menggambarkan O’Malley dan kelompoknya sebagai “garis depan dari kerumunan yang marah” pada tahap awal kekacauan tersebut.

Kepala Kepolisian Metropolitan, Sir Mark Rowley, menyatakan bahwa “ketakutan akan kerusuhan ekstrim kanan” di ibu kota berhasil diatasi berkat “tunjukkan persatuan dari komunitas”. Meskipun begitu, kekhawatiran akan kerusuhan lebih lanjut tetap ada, dengan kelompok-kelompok ekstrim kanan yang dikabarkan menargetkan acara seperti Shrewsbury Flower Show dan protes di beberapa kota besar termasuk Newcastle, Liverpool, Salford, dan Glasgow.

Apa Penyebab Kerusuhan Ini?

Kerusuhan yang melanda Inggris saat ini dipicu oleh pembunuhan tiga gadis muda dalam sebuah acara dansa di Southport, sebuah kota pesisir di utara Inggris. Pada 29 Juli, Bebe King (6), Elsie Dot Stancombe (7), dan Alice da Silva Aguiar (9) tewas dalam serangan pisau saat acara bertema Taylor Swift. Dalam insiden tersebut, terdapat juga delapan anak dan dua orang dewasa yang mengalami luka-luka.

Segera setelah serangan, spekulasi yang salah menyebar di media sosial mengklaim bahwa pelaku adalah seorang pencari suaka yang tiba di Inggris dengan perahu pada tahun 2023, dengan nama yang salah. Terdapat pula rumor tidak berdasar yang menyebutkan bahwa pelaku adalah seorang Muslim. Faktanya, pelaku, yang dilaporkan oleh BBC dan media lain, lahir di Wales dari orang tua asal Rwanda.

Respons Komunitas dan Kerusuhan

Keesokan harinya, lebih dari seribu orang menghadiri sebuah vigil untuk korban di Southport. Namun, kekacauan segera pecah di dekat sebuah masjid lokal, dengan para pelaku melemparkan batu, botol, dan benda-benda lainnya ke arah masjid dan polisi. Sebuah van polisi dibakar dan 27 petugas terluka dalam insiden tersebut.

MP lokal Patrick Hurley mengecam tindakan “preman” yang datang ke kota untuk memanfaatkan kematian ketiga anak tersebut “untuk kepentingan politik mereka sendiri”. Perdana Menteri Sir Keir Starmer juga mengecam “kerumunan yang merajalela di jalanan Southport”.

Tindakan Pemerintah

Pemerintah Inggris telah memperluas kapasitas penjara untuk menampung para pelaku kerusuhan. Saat ini, hampir 600 tempat penjara telah disiapkan untuk menampung mereka yang terlibat dalam kekacauan tersebut, dengan sekitar 400 orang telah ditangkap sejauh ini.

Dalam upaya untuk mengatasi kekacauan lebih lanjut, Sir Keir Starmer akan memimpin pertemuan darurat dengan aparat penegak hukum untuk membahas dampak dari kerusuhan ini.

Meskipun ketegangan di Inggris menunjukkan tanda-tanda mereda, kekhawatiran akan potensi kekacauan lebih lanjut tetap ada. Masyarakat dan pemerintah akan terus memantau situasi dengan cermat, berusaha menjaga keamanan dan persatuan di tengah gejolak yang terjadi.

Penulis: Priskila Theodora

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *