Medan, BONARINEWS.com – Rasa haru dan tak percaya menyelimuti Serefiswan Rajagukguk saat sekolah yang dipimpinnya, SD HKBP Bersubsidi, diumumkan sebagai Juara II dalam Lomba Bank Sampah Sekolah di Belawan.
Ia mengaku sempat kehilangan harapan sebelum akhirnya nama sekolahnya dipanggil sebagai pemenang.
“Awalnya saya pikir sudah tidak ada lagi hadiah untuk kami. Sempat ciut, sempat patah semangat. Ternyata ada lagi pengumuman terakhir, dan kami dapat juara dua. Walaupun juara dua, tetap semangat,” ungkapnya.
Di balik capaian itu, tersimpan perjuangan panjang yang tidak mudah. Serefiswan menyebut banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari keterbatasan kerja sama tim hingga proses pembuatan karya daur ulang yang cukup sulit.
“Tantangannya banyak sekali. Dari guru saja, kerja samanya belum semua maksimal. Tapi kami tetap jalan dengan tim yang solid,” ujarnya.
Salah satu hal yang paling menyita perhatian adalah bahan yang digunakan. Berawal dari kebiasaan berdagang di rumah, ia memanfaatkan limbah yang tersedia untuk dijadikan karya kreatif.
Namun prosesnya tidak mudah. Ia bahkan harus menghadapi risiko luka saat mengolah bahan tersebut.
“Tangan sampai luka, motongnya susah, guntingnya juga tidak mudah. Pokoknya luar biasa tantangannya,” katanya.
Untuk menghasilkan karya tersebut, timnya membutuhkan waktu cukup lama. Pengumpulan bahan dilakukan hingga dua bulan, sementara proses pengerjaan memakan waktu hampir dua minggu.
“Kami kumpulkan bahan dari rumah, dari tetangga, dari sekolah juga. Semua dikumpulkan. Dua bulan proses ngumpulin, hampir dua minggu mengerjakannya,” jelasnya.
Meski penuh keterbatasan, hasil akhirnya justru membanggakan. Ia menilai capaian ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan kreativitas bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa, bahkan dari barang yang dianggap tidak bernilai.
“Walaupun juara dua, kami tetap bangga. Ini jadi semangat untuk terus berbuat lebih baik lagi,” tutupnya.
Lomba Bank Sampah Sekolah ini merupakan program yang digagas oleh Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan CDP, yang melibatkan sekitar 120 sekolah dari dua kecamatan, yakni Medan Belawan dan Medan Marelan.
Untuk wilayah Medan Belawan, pengumuman pemenang dilakukan hari ini, sementara untuk Medan Marelan telah lebih dulu diumumkan sehari sebelumnya di SD Brigjend Katamso Marelan.
Tak hanya lomba bank sampah, kegiatan ini juga dirangkai dengan berbagai perlombaan kreatif lainnya, seperti fashion show berbahan daur ulang sampah serta pameran hasil karya siswa yang seluruhnya menggunakan material dari limbah yang diolah kembali.
Sementara itu, Project Manager GNI Medan CDP, Anwar Suhut, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan bagian dari gerakan besar membangun karakter anak-anak sejak dini.
“Agar anak-anak Belawan ke depan menjadi anak-anak yang cinta lingkungan, cinta kebersihan, dan terbiasa mendaur ulang sampah,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kerja bersama selama kurang lebih tiga bulan, yang melibatkan sekolah, guru, dan siswa dalam membangun budaya peduli lingkungan.
“Hari ini kita bersukacita, bergembira bersama untuk merayakan kerja-kerja kita selama tiga bulan ini. Harapannya ini menjadi penyemangat bagi sekolah untuk terus menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.
Anwar menambahkan, pihaknya akan terus mendukung gerakan kebersihan lingkungan di sekolah melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk mitra donor internasional.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dari sampah, lahir kreativitas, kolaborasi, dan harapan baru bagi lingkungan yang lebih bersih di masa depan.
Penulis: Dedy Hutajulu