Tobat dari Dosa Menebang Mangrove, Kasto Kini Ubah Desa Pesisir Langkat Jadi Ladang Rezeki

Bagikan Artikel

STABAT, BONARINEWS.com – Kisah hidup Kasto Wahyudi menjadi bukti bahwa masa lalu kelam bisa berubah menjadi jalan pengabdian. Pria asal pesisir Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat ini dulunya dikenal sebagai pembalak mangrove. Kini, ia justru menjadi penggerak konservasi yang berhasil mengubah hutan bakau rusak menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

Selama 15 tahun terakhir, Kasto mendedikasikan hidupnya untuk menanam kembali mangrove yang pernah ia rusak dengan tangannya sendiri. Baginya, langkah itu adalah cara menebus dosa masa lalu.

“Saya sudah 15 tahun fokus menanam mangrove. Ini cara saya menebus dosa. Dulu tangan ini yang menebang dan merusak akar-akar itu,” ujar Kasto dengan mata berkaca-kaca.

Dulu, kerusakan mangrove di pesisir Pasar Rawa membuat laut berubah hitam, abrasi makin parah, dan hasil tangkapan nelayan anjlok drastis. Udang, kepiting, dan ikan yang dulu mudah didapat, mendadak menghilang. Warga pun harus melaut lebih jauh demi bertahan hidup.

Rasa bersalah dan himpitan ekonomi menjadi titik balik hidup Kasto. Ia mulai memunguti bibit mangrove dan menanamnya sendiri secara otodidak di sekitar pesisir. Perlahan, ia mengajak mantan pelaku usaha arang bakau lainnya untuk ikut bertobat dan memulihkan alam.

Pada 2011, Kasto bersama warga mendirikan Kelompok Tani Penghijauan Maju Bersama. Mereka rutin berpatroli dan menanam mangrove setiap pekan.

Hasilnya mulai terlihat. Air laut kembali jernih, abrasi berkurang, dan ekosistem laut perlahan pulih.

“Ketika pohon mangrove mulai besar, warna air kembali jernih. Ikan semakin banyak. Udang dan kepiting tidak lagi sulit dicari,” kenangnya.

Perjuangan panjang itu berbuah manis. Kelompok tani tersebut kini mengantongi izin kemitraan perhutanan sosial seluas 178 hektare dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah I Stabat.

Tak hanya itu, keberhasilan mereka menarik perhatian Pertamina EP Pangkalan Susu Field yang kemudian mendukung pengembangan kawasan konservasi menjadi edu-ekowisata mangrove terpadu.

Kini, warga Pasar Rawa tak lagi hanya mengandalkan hasil laut. Mereka bertransformasi menjadi pengelola desa wisata, pengusaha UMKM Baronang Crispy, pembibit mangrove, hingga penyedia jasa homestay.

“Dulu penghasilan warga dari merusak alam hanya Rp50 ribu per hari. Sekarang bisa Rp200 ribu per hari dari pembibitan mangrove yang menjaga alam,” kata Kasto.

Manager Community Involvement and Development Pertamina Hulu Rokan Regional 1, Iwan Ridwan Faizal menyebut kisah Kasto sebagai bukti nyata bahwa manusia bisa berubah dan menyembuhkan alam.

Menurutnya, kehadiran Pertamina hanya untuk memperkuat inisiatif masyarakat agar berdampak lebih luas terhadap kemandirian ekonomi desa.

Kini, dari tangan yang dulu merusak, lahir harapan baru. Dari pesisir yang nyaris mati, tumbuh kehidupan yang kembali lestari.

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *