Tradisi “Marpangir” Pecah! Ratusan Warga Serbu Sungai Batang Pane Meski Sedang Meluap

Bagikan Artikel

Paluta, BonariNews.com — Menjelang datangnya bulan Ramadan, suasana di tepian Sungai Batang Pane mendadak berubah layaknya pesta rakyat. Ratusan warga dari berbagai desa di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) tumplek-blek memenuhi aliran sungai pada Rabu (18/2/2026), demi merawat tradisi turun-temurun “Marpangir”—ritual mandi dan makan bersama sebelum memulai puasa.

Meski debit air sungai sedang meningkat, antusiasme warga sama sekali tidak surut. Sejak siang hingga sore, arus kedatangan masyarakat terus mengalir menggunakan mobil, sepeda motor, becak bermotor hingga angkutan umum. Dari orang tua, anak muda hingga bocah kecil—semua larut dalam suasana hangat tradisi yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Sarwedi (35), salah satu pengunjung yang datang bersama rekan-rekannya, mengatakan bahwa Sungai Batang Pane memang menjadi lokasi favoritnya setiap tahun.

“Ini sudah rutin. Hanya mandi dan makan bareng sebelum puasa. Dari jauh hari kami sudah rencanakan ke sini,” tuturnya.

Berbeda dengan Ikbal (21), mahasiswa dari perguruan tinggi swasta di Tapanuli Selatan, yang mengaku tetap mengikuti tradisi meski ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang Marpangir.

“Kami hanya ingin mandi, masak bersama di pinggir sungai, dan kumpul bareng teman-teman. Itu saja sudah bahagia,” katanya.

Fenomena serupa juga terlihat di Aek Batang Galoga, pemandian keluarga yang berada tepat di jalur lintas Halongonan–Sipiongot Desa Pangirkiran. Sejak pagi hingga malam, lokasi itu dipadati pengunjung hingga harus dijaga aparat keamanan untuk memastikan situasi tetap terkendali.

Tradisi Marpangir kembali membuktikan bahwa masyarakat Tabagsel memiliki cara unik dan penuh kebersamaan dalam menyambut Ramadan—sebuah warisan budaya yang tak lekang dimakan zaman. (Tohong)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *