Jakarta, BonariNews.com — Gelombang bencana kembali melanda berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui Pusat Pengendali dan Operasi, tercatat 28 kejadian bencana hanya dalam kurun 24 jam, terhitung 17–18 Februari 2026. Lonjakan ini memunculkan kekhawatiran serius atas meningkatnya risiko hidrometeorologi basah maupun kering di sejumlah provinsi.
Dalam laporan tersebut, beberapa wilayah di Pulau Sumatera, Jawa, dan Bali–Nusa Tenggara tercatat mengalami banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan kebakaran hutan dan lahan. Ribuan kepala keluarga terkena dampaknya, sebagian harus mengungsi, sementara akses jalan dan infrastruktur di sejumlah titik mengalami kerusakan.
Sejumlah daerah di Sumatera Utara dan Jawa Barat melaporkan banjir baru yang menenggelamkan ratusan rumah serta memaksa warga berpindah tempat tinggal. Kondisi tak jauh berbeda terjadi di beberapa kota besar di Jawa Tengah, di mana banjir sempat meluas sebelum air berangsur surut dan warga mulai membersihkan lingkungan mereka.
Daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta juga diguncang tanah longsor yang memutus jalur permukiman. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, warga harus bekerja sama dengan aparat setempat untuk membersihkan material longsoran.
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan di Riau kembali meluas sejak awal 2026. Hingga pertengahan Februari, ratusan hektare lahan terbakar, diperparah oleh kondisi cuaca kering. Situasi serupa juga terjadi di sebagian wilayah Kalimantan Barat yang melaporkan penambahan area terbakar dan terus berjuang memadamkan titik api.
Di sisi lain, banjir bandang dan pergerakan tanah di sejumlah kabupaten di Pulau Jawa menyebabkan kerusakan hunian, memaksa evakuasi besar-besaran, serta memicu distribusi logistik darurat. Dalam beberapa kejadian, korban luka dan korban meninggal turut dilaporkan.
Berdasarkan peringatan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, potensi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang masih akan berlangsung hingga 21 Februari 2026. Kondisi ini diperkirakan memicu peningkatan risiko banjir, longsor, serta gangguan infrastruktur di berbagai wilayah Pulau Jawa.
Menanggapi situasi tersebut, BNPB mendorong pemerintah daerah untuk mengaktifkan posko siaga, memantau debit sungai dan tanggul, serta meningkatkan pengawasan kawasan lereng rawan longsor. Penyebaran informasi peringatan dini hingga kesiapan peralatan evakuasi disebut menjadi faktor kunci mencegah korban jiwa.
Untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan yang tengah menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan, BNPB mengingatkan pentingnya pencegahan dini melalui patroli terpadu, pemantauan titik panas, pembasahan lahan gambut, dan pelarangan aktivitas pembakaran terbuka.
BNPB menegaskan bahwa meningkatnya dua ancaman besar — hidrometeorologi basah (banjir, longsor, banjir bandang) dan hidrometeorologi kering (karhutla) — menuntut kewaspadaan kolektif masyarakat dan pemerintah daerah demi meminimalkan risiko bencana. Koordinasi lintas sektor terus diperkuat agar penanganan darurat hingga pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan efektif. (Redaksi)
