Gagal Masuk ITB, Ariel Justru Menemukan Jalan Terangnya di Dunia Musik

Bagikan Artikel

Oleh: Devilaria Damanik

Siapa sangka, kegagalan masuk kampus impian bisa menjadi titik balik yang membawa seseorang menuju panggung besar? Itulah kisah Ariel Noah, vokalis yang perjalanan karier musiknya begitu dicintai publik sejak awal bandnya terbentuk hingga sekarang. Melalui podcast Daniel Mananta, kita diajak menyelami sisi lain hidup Ariel—masa gagal, bangkit, dan menemukan tujuan hidupnya.

Semua berawal dari kegagalannya diterima di ITB. Dua jurusan ia incar: Seni Rupa dan Pertambangan. Hasilnya? Keduanya tak ada yang lolos. Ketika teman-temannya kuliah, Ariel justru merasa sendirian dan kehilangan arah. Namun ia menolak tenggelam dalam kesedihan. Setahun penuh ia habiskan membaca buku—dari self motivation hingga karya sastra Jalaluddin Rumi. Dari rangkai kata itulah ia mulai belajar menulis lirik, pelan namun pasti.

Setahun bersama buku akhirnya menuntunnya pada jawaban besar dalam hidup: ia ingin menjadi cahaya bagi orang lain lewat musik. Orang bekerja keras setiap hari butuh hiburan, dan Ariel ingin hadir untuk itu.

Tak menyerah pada masa jedanya, Ariel mengisi hari-harinya dengan latihan band dan terus membaca. Hingga akhirnya ia masuk ke jurusan arsitektur di sebuah perguruan tinggi, namun hanya dua semester dijalaninya. Ketika dihadapkan pada pilihan antara kuliah dan musik, hatinya jelas memilih musik.

Namun perjalanan tidak selalu mulus. Saat popularitas datang, masalah pun ikut datang menghampiri. Tapi Ariel melihat masalah bukan untuk ditakuti, melainkan diselesaikan. Nilai seseorang, menurutnya, terlihat dari cara mereka menghadapi masalah—bukan dari masalah itu sendiri. Kritik ia pisahkan antara yang membangun dan yang tidak.

Dalam hidup, Ariel berpegang pada satu pertanyaan besar: “Siapa aku dan cahaya apa yang kubawa?” Ia percaya ia diciptakan untuk menghibur. Ketenaran bukan tujuan utamanya—ia hanya ingin bercerita dan menghadirkan karya yang berguna bagi orang lain. Baginya, meninggalkan musik berarti meninggalkan panggilannya. Tanpa mimpi dan tujuan hidup, manusia hanya berjalan tanpa arah.

Popularitas datang bersama pujian dan kebencian, dan Ariel sudah berdamai dengan itu. Jika salah, ia memilih untuk menerima. Yang penting adalah tujuan dan langkah ke depan. Tidak ada yang instan—termasuk memaafkan orang lain agar kita pun dimaafkan.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari percakapan Daniel dan Ariel:

  1. Buku adalah teman paling setia ketika kamu merasa sendirian. Cukup buka, pahami, dan biarkan ia menemanimu.
  2. Nilai seseorang terlihat dari cara ia menyelesaikan masalahnya, bukan dari masa lalunya.
  3. Tempelkan mimpimu di dinding kamar. Berani bermimpi berarti berani mengejarnya. Latihan yang tepat akan membawamu ke profesionalisme.
  4. Memaafkan adalah kunci. Semua orang pernah salah. Untuk mendapatkan maaf, mulailah dengan memberi maaf.
  5. Terus berlatih. Konsistensi membentuk profesional, bukan keajaiban instan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *