Jakarta, BonariNews.com – Perairan Kepulauan Seribu menyimpan keajaiban alam yang memikat. Salah satunya adalah lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus), mamalia laut cerdas dan sosial yang kerap muncul di permukaan laut, meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Lumba-lumba hidung botol hidup berkelompok dan dapat mencapai usia 40–50 tahun. Mereka memiliki siklus reproduksi yang panjang, namun kecerdasan dan adaptasi mereka lah yang membuatnya unik.
Beberapa individu, yang dikenal sebagai sponger, memanfaatkan spons laut sebagai pelindung moncong saat berburu di dasar laut. Strategi berburu ini berbeda dengan lumba-lumba lain dalam kelompok yang menggunakan metode konvensional, sehingga kompetisi makanan dapat diminimalkan.
Meski mempesona, lumba-lumba hidung botol menghadapi ancaman serius. Penangkapan tidak sengaja (bycatch), terdampar, dan kerusakan habitat akibat aktivitas manusia menjadi tekanan nyata bagi keberlangsungan hidup mereka. Dalam konteks ini, Taman Nasional Kepulauan Seribu berperan penting sebagai kawasan konservasi laut, menjaga habitat lumba-lumba dan ekosistem laut agar tetap berkelanjutan.
“Laut yang terjaga adalah rumah aman bagi lumba-lumba dan semua kehidupan laut yang bergantung padanya,” ujar Kepala Seksi Konservasi Kawasan Laut Dr. Rini Kusuma.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, ilmuwan, dan pemerintah untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut di Kepulauan Seribu.
Keberadaan lumba-lumba hidung botol bukan sekadar daya tarik wisata bahari, tapi juga indikator kesehatan ekosistem laut. Populasi yang stabil menandakan habitat yang aman dan terkelola dengan baik, sementara penurunan jumlah mereka bisa menjadi alarm bagi kerusakan lingkungan.
Dengan perlindungan berkelanjutan, generasi mendatang dapat terus menyaksikan kecerdasan dan perilaku sosial lumba-lumba yang memesona di Kepulauan Seribu, sekaligus memanfaatkan potensi edukasi dan ekowisata yang dimilikinya. (Redaksi)
