Samosir, BonariNews.com — Di lereng-lereng perbukitan Kabupaten Samosir, selama tiga hari penuh—9 hingga 11 Februari 2026—suasana Balai Desa Sabulan tampak lebih hidup dari biasanya. KSPPM Parapat bersama Pemerintah Desa Sitio-tio menggelar pelatihan penyusunan rencana aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, sebuah agenda yang kini makin mendesak bagi wilayah yang rentan bencana ekologis.
Pelatihan ini dirancang untuk memetakan risiko bencana yang muncul akibat perubahan iklim dan membaca bagaimana dampaknya merambat ke kehidupan warga. Dari ancaman kekeringan, penurunan debit air bersih, hingga potensi longsor di wilayah perkampungan.
Para peserta—warga desa, perangkat pemerintahan lokal, dan pemuda—mengikuti sesi demi sesi dengan antusias. Setiap hari mereka diajak menganalisis kondisi desa, lalu menyusun rencana aksi: mulai dari rehabilitasi lahan kritis, penataan sumber air, penanaman pohon lindung, hingga penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas.
Di hari terakhir, peserta mencapai kesepakatan: seluruh rencana aksi yang lahir dari lokakarya tiga hari itu akan dibagi per peran dan ditindaklanjuti secara kolektif. Harapannya, program yang mereka susun bukan hanya berhenti sebagai dokumen, tetapi menjadi panduan nyata menghadapi dampak perubahan iklim di tingkat desa.
Dukungan dari pihak eksternal—termasuk pemerintah daerah dan lembaga pendamping—dinyatakan sebagai faktor yang sangat diperlukan. Bagi Desa Sabulan, adaptasi dan mitigasi bukan lagi konsep besar yang jauh di awang-awang, tetapi kerja sehari-hari yang perlu dimulai sekarang. (Redaksi)
