Agar Otak Tidak Brain Rot, Merajutlah

Bagikan Artikel

Oleh: Jelita Gistifa Situmorang

Merajut adalah salah satu kegiatan dalam kerajinan tangan, yaitu seni menyimpul dari seutas benang. Kegiatan ini sangat sederhana dan hanya membutuhkan benang dan pengait atau jarum sebagai alat utama. Merajut juga efektif karena bisa dilakukan di mana saja, seperti dalam perjalanan jauh di transportasi umum, saat menunggu seseorang, atau waktu rehat di rumah. Dengan merajut kita bisa lebih memaksimalkan waktu yang kita miliki untuk menambah produktivitas dalam keseharian. Terlebih lagi di era media sosial, dalam kebosanan kita malah sering menggunakan media sosial untuk mengisi waktu. Padahal dampak negatif media sosial dampaknya sudah banyak terbukti sehingga menghasilkan “brain rot”. Lalu kenapa kita tidak menggunakan aktivitas seperti merajut?

Adapun jenis teknik dalam merajut terbagi 2 yaitu crocheting dan knitting. Walaupun orang awam kerap menyamaakan kedua teknik tersebut akan tetapi keduanya jelas berbeda. Teknik crocheting hanya menggunakan satu pengait yang biasa disebut hook, ada pun jenis hook secara umum terbagi dua, yaitu; tapered dan inline. Sebaliknya teknik knitting menggunakan dua jarum. Secara umum jarum untuk knitting terbagi tiga, yaitu; straight needles, Double-pointed needles, serta Circular needles. Perlu diingat jenis hook dan jarum sangat mempengaruhi hasil akhir rajutan yang kita buat, baik dari segi ukuran, kerapian, dan tekstur. Karena itu sebelum merajut ada baiknya kita memahami perbedaan tiap-tiap jenis hook dan jarum. Kita tentu tidak menginginkan hasil akhir yang mengecewakan setelah usaha dan waktu yang kita habiskan untuk merajut.

Selain itu, jenis hook dan jarum juga berpengaruh terhadap kenyamanan saat merajut. Untuk pemula yang ingin mencoba merajut, saya menyarankan menggunakan teknik crocheting. Karena teknik ini tidak serumit teknik knitting, sehingga lebih cepat menguasainya. Apabila kita menggunakan teknik crocheting biaya yang dibutuhkan juga relatif lebih murah, karena hanya membutuhkan benang, jarum, hook, stitch marker, dan gunting. Hanya dengan kelima alat tersebut, kita sudah bisa membuat berbagai jenis barang seperti bandana, syal, topi, tote bag dan berbagai barang lainnya. Ditambah lagi tutorial dan pattern untuk teknik crocheting lebih banyak tersedia secara gratis di internet.

Merajut memiliki beberapa stigma, diantaranya sering dianggap sebagai kegiatan untuk lansia sehingga dianggap tidak relevan untuk anak muda. Streotip ini diperkuat dengan penggambaran dalam film animasi yang kerap kali menampilkan kegiatan ini hanya untuk orang tua, contohnya seperti animasi yang berjudul Late Afternoon (2018). Kabar baiknya, kegiatan ini dilakukan oleh banyak anak muda untuk mengisi waktu luang saat pandemi Covid-19 berlangsung.

Hingga saat ini Februari 2026 kegiatan merajut masih banyak dilakukan oleh anak muda, walaupun sebagian orang masih tetap berpikir bahwa merajut adalah kegiatan untuk lansia. Stigma lain yang melekat pada kegiatan merajut sampai saat ini yaitu kegiatan ini adalah aktivitas feminine, sehingga laki-laki sering menghindari kegiatan ini.

Padahal Sejarah menunjukan, di Skandinavia selama periode viking, bangsa ini telah melakukan nalbinding yaitu metode rajut untuk membuat pakaian, sebagai salah satu cara mereka untuk dapat bertahan hidup dari cuaca utara yang ekstrim. Bahkan, prajurit perang dunia kedua diajari merajut untuk menyibukkan para tetantara. Tetapi sampai saat ini bangsa viking tetap saja dianggap sebagai lambang maskulin. Justru kegiatan merajut oleh para prajurit ini berfungsi sebagai meditasi paktis dan membantu agar otak mereka tetap aktif saat waktu luang. Dengan serangkaian sejarah di atas seharusnya kita memandang aktivitas ini sebagai sesuatu yang sangat penting dan positif tanpa batasan gender.

Merajut merupakan kegiatan sederhana yang memiliki banyak manfaat. Salah satunya yaitu sebagai invenstasi untuk kesehatan otak. Walaupun merajut hanya membutuhkan sedikit alat dan bisa dilakukan di mana saja, tetapi kita harus membuat perencanaan sebelum melakukan kegiatan ini. Perencanaan dalam merajut juga cukup kompleks seperti; pemilihan benang, ukuran hook atau jarum yang sesuai, dan pemilihan pattern yang sudah kita visualkan terlebih dahulu dalam pikiran. Saat merajut selain melatih kita untuk mengasah kreativitas dalam membayangkan pattern, otak kita juga dilatih untuk memecahkan pola pada pattern.

Selama proses merajut kita juga harus fokus agar tidak salah saat menghitung pola dan menjaga kaitan benang agar tetap sama; tidak terlalu longgar ataupun ketat. Serangkaian kegiatan di atas dapat meningkatkan kemampuan kognitif kita. Seorang ahli gerontologi Lakelyn Eichenberger berkata “menantang otak anda dengan cara-cara ini akan sangat baik untuk kesehatan otak jangka panjang anda”.

Merajut memang bisa menjadi hobi yang meningkat kognivitas dengan syarat terus mencoba hal baru. Seperti yang dikatakan profesor neurologi dari Harvard, Alvaro Pascual-Leone “yang benar-benar penting adalah memberi otak anda tantangan yang belum dikuasainya”. Itu berarti, jika kita ingin melatih kemampuan kognitif melalui kegiatan ini, kita juga harus mengasah kreativitas untuk menciptakan tantangan baru dalam merajut. Menurut saya kegiatan ini sangat cocok untuk anak muda karena kondisi tubuh yang masih prima sehingga dapat mengasah kreativitas lebih jauh dan mengumpulkan kemampuan kognitif sebagai tabungan di masa tua.

Mari kita melihatnya lebih rinci lagi. Untuk menghasikan hasil rajutan yang rapi, kita harus membagun simpul demi simpul dengan presisi. Hal itu sangat membutuhkan kemampuan sikronisasi dan fokus yang baik. Saat sedang merajut pikiran kita sibuk menghitung pola sementara tangan kita menjaga agar ketegangan benang tetap sama. Kegiatan ini memaksa otak sebelah kiri dan kanan bekerja secara bersamaan, sehingga membuat saraf di otak semakin kuat.

Dari salah satu jurnal Science terdapat penelitian yang dilakukan oleh McKenzie dan tambahan informasi yang saya ambil dari jurnal yang ditulis David Rossi di Scientific reports. Dalam penelitian tersebut terbukti jika kegiatan yang melatih motorik membantu otak kita mengirim sinyal yang lebih cepat dan mengurangi kebocoran sinyal, sehingga gerakan kita lebih efisien dan memungkinkan kita bergerak sesuai dengan keinginan pikiran.

Merajut juga melatih agar kita lebih fokus karena merajut adalah kegiatan repetitif dan memerlukan perencanaan seperti; kapan harus mengganti warna benang dan kapan mengurangi lubang. Selain itu kita juga harus mengingat sudah berapa tusukan yang kita buat sehingga kegiatan ini juga melatih daya ingat. Pada era digitalisasi yang bergerak cepat seperti saat ini, banyaknya sumber informasi mengurangi fokus kita.

Terlebih saat melihat reel di berbagi platfrom media sosia, fokus kita berganti dalam hitungan detik sehingga otak kita tidak sempat membuat ingatan jangka pendek menjadi ingatan jangka panjang. Dalam konsep digital demensia, Manferd Spitzer menulis tentang bagaimana penggunaan media digital yang berlebihan pada usia muda dapat menghambat perkembangan otak. Karena itu merajut bisa menjadi salah satu penjeda dalam kegiatan digital yang buruk untuk anak muda.

Karena globalisasi memicu perkembangan yang begitu cepat. Saat ini kita terpapar radiasi yang begitu besar dari berbagai alat elektronik penunjang sosial seperti handphone dan laptop. Gaya hidup digitalisasi memiliki serangkaian efek buruk pada kesehatan mental penggunanya. Dalam studi terbaru yang diterbitkan tahun lalu, Nurul Auliyaa, dalam satu jurnal menyebutkan “radiasi paparan yang berlebihan tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi memicu masalah kesehatan mental, seperti kecemasan berlebihan, stres, dan gangguan tidur”.

Maka merajut hadir sebagai salah satu solusi untuk menangani efek negatif terpapar radiasi. Merajut menjadi bagian dari alternatif penerapan teknik grounding, aktivitas ini membuat kita fokus dengan hal nyata yang ada di tangan kita sehingga mengaburkan kecemasan. Sensasi menyentuh benang dan hook membuat kita tetap sadar dan juga membuat kita berorientasi pada masa kini.

Kegiatan ini sangat membantu agar pikiran tidak terbebani dengan masalah masa lalu ataupun masa depan. Kegiatan menyimpul benang ini dilakukan dengan gerakan ritmik menggunakan pola dan irama yang berulang secara stabil. Helbert Benson dalam bukunya The Breakout Principle menyebutkan, kegiatan repetitif dapat menurunkan hormon stress seperti kortisol. Hal ini yang mendasari kenapa orang yang merajut merasa lebih tenang dan fokus. Karena kegiatan yang berulang secara terus-menerus otot tangan kita jadi mengingat pola dan kita dapat melakukan rajutan tanpa banyak berpikir.

Dalam salah satu artikel Psychology Today, Susan Biali mengatakan “saya merasa sangat lega dan senang melalukan sesuatu dengan tangan saya tanpa mengharuskan saya untuk banyak berpikir”, kemudian dia melanjutkan dengan mengatakan “menggunakan tangan kita sebenarnya bisa menjadi kunci untuk menjaga suasana hati yang sehat, dan kurangnya aktivitas jenis ini dapat berkontribusi pada perasaan mudah tersinggung, apatis, dan depresi”. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah kaum muda sebaiknya lebih peduli kepada kesehatan mental dengan menyelingi kegiatan digital dengan kegiatan yang berbasis dunia nyata seperti merajut.

Manfaat dari kegiatan merajut tidak hanya dirasakan oleh masyarakat umum, tetapi juga oleh anak-anak dengan autisme. Saat ini saya sangat suka merajut. Selama saya menekuni kegiatan ini, saya bergabung dalam beberapa komunitas merajut di media sosial. Dalam grup tersebut, tidak jarang orang tua membagikan pengalaman mereka.

Saya teringat salah satu unggahan seorang ibu yang menceritakan pengalamannya ketika pertama kali memperkenalkan kegiatan merajut kepada anaknya yang memiliki autisme. Anaknya sangat aktif, sehingga sang ibu memberikan benang dan hook. Awalnya anaknya tertarik dengan kedua benda baru tersebut sehingga membuatnya tenang. Akan tetapi setelah beberapa saat anak tersebut mengamuk kembali. Ibunya kemudian mengganti hook dan benang dengan ukuran yang lebih besar, sehingga anaknya tidak lagi merasa kesulitan. Akhirnya anaknya menjadi lebih tenang karena dia menikmati kegiatan barunya.

Di website Medium terdapat juga seorang pengidap autis yang membagikan pengalamannya dalam merajut. Sebuah akun yang bernama Ms.KJ menulis begini: “saya menganggap seni merajut sebagai stimulant terbesar saya. Ini bersifat terapeutik. dan membantu saya tetap tenang”. Davide Rossi menyebutkan dalam abstrak jurnalnya bahwa beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa aktivitas kerajinan tangan (seperti merajut) memiliki manfaat psikologis, seperti relaksasi, pengurangan stress, dan peningkatan rasa kendali dan pilihan, mungkin karena aktivitas tersebut merupakan bentuk ekspresi diri dan memberikan rasa tujuan.

Kita telah mengetahui, merajut dapat menenangkan diri. Karena itu, saya tidak setuju dengan stigma yang menganggap bahwa merajut hanya dilakukan oleh orang sabar. Justru dengan merajut, seseorang dapat melatih kesabarannya. Dalam kegiatan merajut, saat saya mencoba metode dan pattern baru untuk pertama kali. Saya akan melakukan banyak kesalahan dan tentu saja di setiap pola yang salah, saya akan ulangi. Ketika benang yang sudah dirajut ditarik kembali memberikan saya perasaan kecewa karena usaha sebelumnya terasa sia-sia, terkadang saya bahkan berteriak untuk meluapkan kekesalan. Walaupun begitu saya tetap kembali merajut dengan lebih pelan dan teliti.

Dalam merajut satu pola yang salah akan tetap terlihat pada hasil akhir. Karena itu saya memilih memperbaiki kesalahan saat proses agar hasil rajutan saya sesuai dengan yang saya harapkan. Bahkan saat seseorang mengusai metode dan pattern tidak menutup kemungkinan mereka membuat kesalahan, jadi menurut saya jika terjadi kesalahan saat proses merajut adalah hal yang lumrah. Dari sudut pandang lain, saya melihat kegiatan merajut sebagai sebuah kegiatan yang mengajarkan proses. Proses bahwa tidak ada keahlian yang didapatkan dengan mudah dan cepat.

Dalam kegiatan merajut saat membuat satu hasil yang indah, kita diajarkan untuk melatih diri terlebih dahulu. Setiap memulai pola baru kita akan melihat lagi dari awal untuk memastikan tidak terjadi kesalahan, kebiasaan ini membentuk kita menjadi teliti. Walaupun ada kesalahan kita akan memperbaikinya, ini membentuk mental yang berani menghadapi tantangan dan masalah. Semua kegiatan di atas membutuhkan usaha dan waktu.

Begitulah kisah seni ini. Tidak sesederhana yang orang kira. Apalagi jika hasil produk rajut justru memiliki nilai tinggi. Hal ini terjadi karena proses pembuatan satu karya biasanya membutuhkan waktu dan usaha yang cukup banyak. Saya sendiri menggunakan hasil rajutan saya sebagai hadiah kepada orang lain.

Menurut saya dengan merajut ketulusan saya dapat tersampaikan. Ketika saya memutuskan untuk memberi seseorang hadiah rajutan, saat proses merajut saya akan membayangkan orang tersebut dan menikmati kenangan selama bersamanya. Kegiatan membuat hadiah untuk seseorang terasa menyenangkan bagi saya. Walaupun begitu hanya segelintir orang yang saya hadiahkan hasil rajutan, barang eksklusif hanya untuk orang yang eksklusif juga kan. Karena itu juga produk rajutan memiliki nilai ekonomis yang cukup baik.

Cara pemasaran produk rajutan juga cukup mudah, bisa dilakukan di aplikasi belanja online, melalui media sosial, bahkan saya sering menemukan produk rajutan saat bazar kampus. Selain produk jadi, kita juga bisa menjual pattern di website seperti Etsy. Begitu banyak manfaat dari merajut, setidaknya cobalah sekali dalam hidup anda dan rasakan keajaibannya.

Penulis adalah mahasiswi Prodi S-1 Antropologi Sosial, FISIP, Universitas Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *