Kebumen, BonariNews.com — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan kembali peran penting Sekolah Rakyat dalam menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini tidak teridentifikasi oleh sistem pelayanan sosial. Pernyataan itu disampaikan saat berdialog dengan orang tua dan siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 44 Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul mengulas konsep “invisible people” yang sebelumnya disampaikan Presiden, merujuk pada kelompok masyarakat yang ada di sekitar namun kerap luput dari pencatatan dan perhatian negara.
“The invisible people seperti yang disebut Presiden, itu sebenarnya bukan orang jauh. Mereka ada di sekitar kita. Tapi kadang tidak terlihat. Tidak tercatat. Tidak terdengar,” ujar Gus Ipul.
Kunjungan tersebut juga diisi dialog dengan dua siswa SRT 44 Kebumen: Anang, anak piatu, serta Erni yang kini dirawat pamannya. Menurut Gus Ipul, kisah keduanya mewakili potret keluarga yang berjuang dalam keterbatasan namun minim akses terhadap fasilitas pembangunan.
“Anak-anak seperti Anang dan Erni adalah alasan kenapa negara harus hadir. Mereka hidup, tumbuh, dan berjuang, tetapi sering tidak terjangkau sistem. Inilah dasar konstitusi sosial kita,” ujarnya.
Bukan Sekadar Sekolah, tapi Lingkungan Pemulihan Sosial
Gus Ipul menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan akademik. Anak-anak tinggal di asrama, mendapatkan makan bergizi, pembinaan karakter, pendampingan konselor, hingga penguatan keterampilan hidup. Dalam satu semester berjalan, perubahan perilaku, kemandirian, dan kepercayaan diri para siswa dinilai meningkat signifikan.
Model pendidikan sosial integratif seperti SRT 44 disebut akan terus dikembangkan Kemensos agar semakin banyak anak dari keluarga rentan mendapatkan layanan pendidikan yang aman, layak, dan berkelanjutan.
“Negara harus memastikan mereka tidak hanya terlihat, tetapi juga didampingi hingga benar-benar mendapatkan masa depan yang lebih baik,” tegas Gus Ipul. (Redaksi)
