Nelayan Perempuan Ndete Tertekan Perubahan Iklim, Hasil Tangkapan Menurun dan Risiko Meningkat

Bagikan Artikel

Sikka, BonariNews.com – Perubahan cuaca dan meningkatnya risiko gelombang laut di perairan utara Flores semakin menekan kehidupan nelayan perempuan di Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Hasil tangkapan yang menurun, risiko keselamatan yang meningkat, serta akses bantuan yang belum merata menjadi tantangan utama.

Peristiwa yang dialami Merawati (69) pada November 2025 menjadi ilustrasi nyata. Saat menjaring ikan sekitar 400 meter dari pantai, cuaca mendadak berubah dari cerah menjadi hujan deras disertai angin kencang dan gelombang tinggi, mengguncang sampan kayu tanpa mesin yang ditumpanginya. Hasil tangkapannya hanya tiga ekor ikan kecil, tidak cukup untuk dijual.

Merawati merupakan nelayan keturunan suku Bajo yang sudah melaut sendiri sejak 1997. Ia mengaku naluri tradisional membaca tanda alam kini sering gagal karena perubahan cuaca yang tidak menentu. Keluhan serupa disampaikan rekannya, Hamjanur, yang kini hanya mendapatkan 3–8 ekor ikan per malam, padahal tiga dekade lalu hasilnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Data dari BMKG menunjukkan peningkatan suhu laut Indonesia sebesar 0,19 derajat Celcius tiap dekade, memicu fenomena marine heatwave, migrasi ikan, dan penurunan populasi di titik tertentu. Tinggi gelombang di NTT kini bisa mencapai empat meter, terutama saat musim barat dan munculnya bibit siklon tropis.

Di Ndete, terdapat tujuh nelayan perempuan aktif melaut menggunakan sampan kayu tanpa mesin dan peralatan sederhana seperti pancing dan kail. Risiko tinggi membuat mereka harus memilih antara melaut jauh demi hasil atau tetap dekat pantai dengan kemungkinan pulang tanpa ikan. Hasil tangkapan harian rata-rata Rp25 ribu, kadang hanya Rp10 ribu, digunakan untuk kebutuhan dapur dan sekolah anak, sementara kebutuhan mendesak dipenuhi dengan pinjaman di koperasi harian.

Masalah lain, mereka belum memiliki kartu nelayan, sehingga akses bantuan dan pelatihan terbatas. Agnes Sera mendorong penerbitan kartu nelayan khusus perempuan, serta pelatihan pengolahan ikan agar hasil tangkapan bernilai tambah.

Pemerintah desa, melalui Florida Yosefina Ndena, telah menyalurkan bantuan sosial seperti PKH dan BLT, namun keselamatan nelayan di laut masih butuh perhatian serius. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur, menyatakan nelayan bisa mengurus KUSUKA melalui Musrenbang desa dan kecamatan.

Para nelayan perempuan di Ndete mengaku harapan sederhana: memiliki sampan sendiri agar tidak perlu berbagi hasil atau menyewa perahu. “Risiko makin tinggi, hasil sering mengecewakan. Tapi kalau tidak melaut, siapa yang kasih kami makan?” ujar Hamjanur. (Faidin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *