SURABAYA, BonariNews.com — Sebuah gagasan baru soal reformasi pendidikan tengah mencuri perhatian publik. Sekolah Berdaya, konsep yang digagas IndexPolitica, dinilai dapat menjadi “penyelamat” bagi kesehatan mental siswa yang selama ini tertekan oleh sistem pendidikan yang kian sarat beban. Pendapat itu disampaikan langsung oleh pakar psikologi pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Wulan Saroinsong, Ph.D.
Menurut Wulan, tekanan struktural yang menumpuk—mulai dari beban administrasi, target akademik yang kaku, hingga minimnya ruang dialog—telah lama menjadi “musuh senyap” bagi siswa dan guru. Dampaknya bukan hanya pada motivasi belajar, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis seluruh warga sekolah.
“Jika sekolah terfokus pada administrasi, sementara kebutuhan emosional anak terabaikan, pendidikan kehilangan maknanya. Rasa aman itu fondasi,” ujar Wulan.
Diskusi mengenai Sekolah Berdaya menguat setelah tragedi YBR, siswa 10 tahun di Ngada, NTT, yang meninggal dan disebut sebagai bentuk social murder akibat tekanan struktural. Direktur Eksekutif IndexPolitica, Alip Purnomo, menilai kejadian tersebut sebagai bukti bahwa perubahan sistem tidak bisa lagi ditunda.
Wulan menegaskan bahwa kesehatan mental siswa dan guru adalah elemen strategis yang harus ditempatkan di pusat kebijakan pendidikan. Ia menilai Sekolah Berdaya relevan karena mendorong otonomi sekolah, memperkuat sistem dukungan psikososial, dan membangun kepemimpinan yang lebih manusiawi. “Reformasi pendidikan harus menjaga daya hidup anak-anak kita. Sekolah Berdaya memberi arah yang tepat,” katanya.
Ia juga mendorong perguruan tinggi untuk terlibat aktif dalam riset, pendampingan, dan pelatihan agar transformasi pendidikan tidak berhenti pada regulasi semata, tetapi membangun ekosistem belajar yang lebih sehat dan melindungi martabat siswa. (Redaksi)
