Bencana Hidrometeorologi Melanda Jawa Tengah dan Bangka Belitung: Puluhan Meninggal, Ribuan Terpaksa Mengungsi

Bagikan Artikel

Jakarta, BonariNews.com – Cuaca ekstrem hampir sepekan terakhir memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat tanah longsor dan pergerakan tanah berdampak signifikan di Jawa Tengah dan Kepulauan Bangka Belitung sejak Jumat (6/2) hingga Sabtu (7/2).

Di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, hujan deras memicu longsor di Desa Jojogan, Kecamatan Watukumpul, Jumat sore. Tebing di belakang rumah warga runtuh, menimpa satu rumah dan menewaskan satu orang. Satu korban lainnya mengalami luka-luka. BPBD setempat bersama aparat desa dan relawan terus memantau lokasi, sementara material longsoran masih menutupi rumah terdampak.

Sementara itu, tanah longsor juga melanda area pertambangan timah di Desa Pemali, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka, Kamis (5/2) dini hari. Hujan intens menyebabkan enam orang meninggal dunia, satu masih dalam pencarian, dan empat lainnya selamat. Tim BPBD, Basarnas, relawan, dan aparat setempat terus melakukan evakuasi dengan bantuan alat berat, mengantisipasi longsor susulan.

Di Kabupaten Tegal, pergerakan tanah di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, berdampak luas. Data sementara mencatat 464 rumah rusak dari ringan hingga berat, 36 fasilitas umum terdampak, dan lebih dari 2.400 warga mengungsi. Operasi tanggap darurat meliputi evakuasi, distribusi logistik, dapur umum, layanan kesehatan, serta pendirian posko pengungsian. Langkah lanjutan termasuk persiapan hunian sementara dan perbaikan infrastruktur menunggu rekomendasi Badan Geologi.

BNPB mengingatkan masyarakat di wilayah rawan bencana untuk waspada terhadap cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi. Warga diminta memantau informasi resmi, melaporkan tanda-tanda awal bencana seperti retakan tanah atau peningkatan debit sungai, serta memastikan jalur evakuasi aman. Pemerintah daerah juga diimbau menyiagakan personel dan sarana prasarana penanganan bencana.

“Keselamatan warga menjadi prioritas utama. Pemantauan, kesiapsiagaan, dan koordinasi yang baik akan meminimalkan risiko dan dampak bencana,” ujar Kepala Pusat Pengendalian Operasi BNPB. (Lindung Silaban)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *