MEDAN, BonariNews.com – Suasana haru menyelimuti acara bedah buku Reset Indonesia yang menghadirkan penulis Benaya Harobu dan jurnalis investigatif Dhandy Dwi Laksono di Serayu Café and Space, Medan, Kamis, 5 Februari 2026. Benaya tak mampu menahan air mata ketika membahas ketidakadilan dalam dunia pendidikan yang menurutnya masih menjadi beban berat bagi keluarga miskin di Indonesia.
Acara yang digelar sebagai ruang diskusi publik ini membahas isu demokrasi, keadilan sosial, hingga perlindungan terhadap kelompok rentan. Peserta datang dari beragam latar belakang—mahasiswa, akademisi, hingga pegiat sosial—menjadikan diskusi berlangsung hidup dan terbuka.
Kisah Tragis dari NTT yang Menggetarkan Forum
Dalam pemaparannya, Benaya mengangkat cerita pilu seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang meninggal bunuh diri lantaran orang tuanya tak mampu membelikan buku tulis dan pulpen serta harus menanggung biaya sekolah Rp1,2 juta per tahun. Ketika mengenang kisah itu, suara Benaya bergetar dan matanya berkaca-kaca.
“Bagaimana saya tidak terpukul. Adik saya harus meregang nyawa karena ketidakadilan dalam sistem pendidikan. Ini tamparan keras bagi siapa pun yang masih mau berpikir jernih,” ucapnya penuh emosi.
Ia menegaskan, kasus tersebut menjadi pengingat bahwa negara belum sepenuhnya menjamin hak dasar pendidikan bagi seluruh warga, terutama kelompok kurang mampu.
Literasi Kritis Sebagai Fondasi Demokrasi
Benaya menjelaskan Reset Indonesia lahir dari riset panjang dengan pendekatan naratif agar isu-isu struktural bisa dipahami masyarakat luas.
“Literasi kritis adalah kunci untuk memperkuat partisipasi publik dalam demokrasi,” katanya.
Menurutnya, keberanian untuk membaca, berdiskusi, dan mempertanyakan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil perlu terus dirawat sebagai bagian dari kesadaran kolektif.
Seruan Menjaga Lingkungan dan Melawan Kerusakan Ekologi
Dhandy Dwi Laksono menambahkan, buku tersebut lahir dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang jarang mendapat ruang dalam wacana publik.
“Buku ini merekam suara yang kerap dibungkam, dan mengajak pembaca untuk tidak sekadar menjadi penonton,” ujarnya.
Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, menyoroti kerusakan lingkungan yang semakin parah, termasuk di Sumatera Utara seperti Mandailing Natal. Ia mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam mempertahankan ekologi dari ancaman alih fungsi lahan. “Tanpa keterlibatan masyarakat, kerusakan lingkungan tak terhindarkan. Hutan terancam, lahan dialihkan, dan masyarakat akan terus menjadi korban bencana,” tuturnya.
Antusiasme Peserta dan Tantangan Kebebasan Bersuara
Direktur Utama Indata Komunika Cemerlang, Fika Rahma, sebagai penyelenggara, menyebut diskusi berlangsung dinamis dengan banyak pertanyaan terkait peran media, keberanian menyuarakan kebenaran, dan tekanan politik yang sering membungkam suara kritis. “Peserta aktif bertanya tentang bagaimana media bertahan menyampaikan kebenaran di tengah tekanan,” kata Fika.
Acara ini juga menghadirkan akademisi Ibnu Avena Matondang sebagai pembanding. Dua pegiat literasi Sumatera Utara, Eka Delanta Rehulina dan Ranggini Triono, turut hadir mengikuti jalannya diskusi. (Redaksi)
