Tapanuli Utara, BonariNews.com — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Tapanuli Utara menyoroti praktik yang terjadi di Perumda Mual Na Tio, yang dinilai menimbulkan kegelisahan publik. Kritik tersebut disampaikan oleh Gary Siagian, yang menekankan pentingnya tata kelola perusahaan yang baik dan transparan.
Menurut Gary, sejumlah hal menjadi sorotan. Pertama, pengangkatan Direktur Perumda, David Hutabarat, pada November 2025 dianggap menimbulkan pertanyaan terkait kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Kedua, dugaan nepotisme dalam penerimaan pegawai baru dinilai bertentangan dengan prinsip transparansi dan profesionalisme.
Ketiga, perubahan struktur organisasi dan mutasi pegawai dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas, berpotensi mengabaikan aturan pemerintah daerah. Keempat, pemotongan gaji dan penurunan status pegawai lama demi efisiensi dianggap tidak adil dan menimbulkan ketidakpuasan internal.
Kelima, pengangkatan tenaga ahli baru tanpa aturan yang jelas dikhawatirkan memboroskan anggaran perusahaan. Keenam, pengadaan barang dan jasa senilai ratusan juta rupiah dilakukan tanpa proses tender resmi, yang diduga melanggar ketentuan pengadaan pemerintah.
Gary menegaskan, GMNI menuntut audit yang jelas, transparansi, dan perlindungan hak pekerja. “Kami tidak akan diam. Pendidikan bukan hanya untuk pintar, tapi diberikan agar kami menjadi manusia yang bijaksana,” ujarnya.
GMNI menekankan sikap kritis mereka didorong oleh cinta pada kebenaran, tanggung jawab moral, dan kepedulian terhadap rakyat. (Redaksi)
