NGADA, NTT — Tragedi kematian seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, terus memantik keprihatinan publik. Anak tersebut ditemukan meninggal dunia gantung diri pada Kamis, 29 Januari 2026, diduga kuat karena tekanan ekonomi keluarga setelah tidak mampu membeli buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.
Peristiwa memilukan itu mendapat sorotan tajam dari pengamat politik dan filsuf Rocky Gerung, yang menyebut kematian YBS sebagai potret telanjang kegagalan negara dalam menjamin hak dasar warganya, khususnya anak-anak.
Dalam pernyataannya yang disampaikan melalui kanal YouTube dan dikutip sejumlah media nasional, Rocky Gerung menegaskan bahwa tindakan YBS bukan sekadar tragedi keluarga, melainkan alarm keras bagi republik.
“Saya tadi baca berita di NTT, anak umur 10 tahun memilih bunuh diri. Saya pakai kata memilih. Dia minta dibelikan buku, ibunya bilang tidak ada uang, lalu dia memilih bunuh diri,” kata Rocky.
Menurut Rocky, keputusan seorang anak berusia 10 tahun untuk mengakhiri hidupnya menunjukkan betapa berat beban psikologis dan sosial yang harus ia tanggung akibat kemiskinan ekstrem.
“Anak itu bahkan menulis surat, ‘Ibu saya pergi dulu, ibu tidak perlu bersedih’. Ini bukan soal emosi sesaat, ini soal kesadaran tragis seorang anak terhadap kemiskinan yang menindih keluarganya,” ujarnya.
Kritik Prioritas Negara
Rocky Gerung kemudian membandingkan tragedi tersebut dengan kebijakan dan prioritas anggaran negara yang dinilainya timpang. Ia menyinggung isu sumbangan atau komitmen dana sebesar Rp17 triliun yang dikaitkannya dengan relasi internasional Indonesia dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sebagaimana ramai diberitakan media.
“Harga buku itu berapa? Katakanlah Rp10 ribu. Rp10 ribu itu berapa per mil dari Rp17 triliun yang disumbangkan oleh Prabowo kepada Donald Trump?” ucap Rocky dengan nada retoris.
Perbandingan itu, menurut Rocky, bukan semata soal angka, melainkan soal moral politik dan keberpihakan negara.
“Seorang anak menghentikan hidupnya demi menyelamatkan hidup ibunya dan lima adiknya. Supaya republik ini sadar bahwa ada yang tidak beres dengan urusan bernegara,” lanjutnya.
Rocky menyebut tragedi YBS sebagai contoh nyata dari apa yang ia sebut the God of small things — persoalan kecil yang justru membuka kebohongan besar narasi kemajuan dan pertumbuhan ekonomi.
Buku Bukan Kemewahan
Lebih jauh, Rocky menegaskan bahwa buku tulis dan alat pendidikan bukanlah barang mewah, melainkan hak dasar anak yang seharusnya dijamin negara tanpa syarat.
“Buku itu bukan kemewahan. Kalau republik tidak sanggup menyediakan buku untuk anak-anaknya, maka seluruh pidato tentang kemajuan hanyalah slogan kosong,” tegasnya.
Ia menilai negara terlalu sibuk mengurusi citra global, angka makroekonomi, dan diplomasi besar, sementara di tingkat paling bawah masih ada anak-anak yang merasa hidupnya tidak lagi layak dijalani hanya karena tidak mampu membeli alat tulis.
Alarm bagi Pemerintah
Kasus YBS kini menjadi sorotan nasional dan memunculkan desakan agar pemerintah pusat dan daerah melakukan evaluasi serius terhadap sistem perlindungan anak, akses pendidikan, serta penanganan kemiskinan ekstrem di wilayah timur Indonesia.
Bagi Rocky Gerung, kematian YBS bukan sekadar statistik atau berita duka, melainkan tuduhan moral terhadap negara.
“Republik diuji bukan oleh pidato besar, tapi oleh nasib anak-anak paling miskin. Dan hari ini, republik gagal di hadapan seorang anak berusia 10 tahun,” pungkasnya.
Penulis : Faidin