Jakarta, BONARINEWS – Para peneliti BRIN membuat terobosan yang bisa mengubah lanskap pengobatan kanker payudara. Tim Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional menemukan bakteri aktinomisetes di tanah sekitar akar kunyit (Curcuma longa L.) yang mampu menghasilkan senyawa antikanker efektif, namun tetap aman bagi sel sehat. Temuan ini membuka peluang obat kanker baru dengan toksisitas minimal dan biaya produksi lebih efisien.
Riset kolaboratif antara BRIN dan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berhasil mengisolasi tujuh bakteri dari kebun kunyit di Karanganyar, Jawa Tengah, dan menguji potensi antikankernya terhadap sel kanker payudara T47D. Hasilnya, salah satu isolat bernama TC-ARCL7 menunjukkan aktivitas paling tinggi, dengan nilai IC50 0,2 µg/ml—jauh lebih efektif dibandingkan kurkumin murni maupun obat kemoterapi doxorubicin—dan hampir tidak menimbulkan efek pada sel normal.
“Menariknya, anti-kanker tidak selalu berasal dari tanaman obat itu sendiri. Mikroba di sekitar tanaman juga memiliki potensi serupa, bahkan bisa dikembangkan sebagai alternatif obat berbasis alam yang berkelanjutan,” ujar Aniska Novita Sari, peneliti BRIN, Senin (2/2).
Analisis molekuler mengungkap TC-ARCL7 memiliki klaster gen biosintesis poliketida (PKS1 dan PKS2) yang berperan dalam produksi metabolit antikanker. Bakteri ini termasuk keluarga Kitasatospora, yang dikenal mampu menghasilkan berbagai senyawa bioaktif farmasi.
Meski masih tahap awal, tim BRIN berencana melanjutkan riset dengan pemurnian senyawa aktif, optimasi produksi, hingga uji pra-klinik. Langkah ini diharapkan menghasilkan kandidat obat antikanker baru yang aman, efektif, dan bisa dimanfaatkan luas oleh pasien yang membutuhkan. (Redaksi)