Bagikan Artikel

Stop Bertanya: Kapan Nikah?

Oleh: Devilaria Damanik

Dalam hampir setiap pertemuan keluarga besar, pesta, atau acara sosial lainnya, ada satu figur yang kerap menjadi pusat perhatian tanpa diminta: perempuan lajang. Bukan karena prestasi, karya, atau kontribusinya, melainkan karena statusnya. Ia menjadi sasaran satu pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sarat tekanan: kapan nikah?

Pertanyaan ini sering dibungkus atas nama kepedulian. Seolah-olah bertanya tentang pernikahan adalah bentuk empati, tanggung jawab sosial, bahkan upaya menjaga keberlangsungan umat manusia agar tidak “punah”. Padahal, di balik pertanyaan itu, tersembunyi asumsi dan penghakiman yang kerap melukai.

Di masyarakat kita, cukup umur dan belum menikah dianggap kondisi yang perlu “segera diperbaiki”. Terutama bagi perempuan. Perempuan lajang sering diposisikan sebagai sosok yang patut dikasihani, diingatkan usia, bahkan diburu agar lekas menikah. Seakan-akan ada label masa kedaluwarsa yang menempel di dahi. Tak jarang, bisik-bisik bernada merendahkan pun muncul: “tak laku”.

Padahal, hidup tidak berjalan seragam. Seperti pohon di hutan, ada yang tumbuh cepat, ada yang lambat, ada yang menjulang tinggi, ada yang tetap pendek. Prosesnya berbeda-beda. Begitu pula dengan perempuan. Ada yang memilih menikah, ada yang belum menikah, dan ada pula yang memutuskan untuk tidak menikah. Semua itu adalah pilihan hidup yang sah, karena perempuan memiliki kehendak bebas atas hidupnya sendiri.

Perempuan yang belum memiliki pasangan tidak otomatis menjadi manusia paling menderita atau paling kesepian. Banyak dari mereka hidup mandiri secara ekonomi, berdampak di lingkungan sosial, memiliki hobi yang menyenangkan, serta dikelilingi sahabat dan keluarga yang mendukung. Ironisnya, tekanan justru sering datang dari orang-orang terdekat yang terpengaruh bisikan lingkungan, lalu ikut merongrong agar segera menikah.

Untuk memilih pakaian atau sepatu saja, kita mencari yang paling nyaman dan sesuai. Mengapa untuk urusan pernikahan, perempuan kerap dipaksa tergesa-gesa hanya karena usia? Tanpa ruang untuk bertanya: apakah pasangannya setara? Apakah relasinya sehat? Apakah bebas dari sikap misoginis dan budaya patriarki yang menindas?

Pernikahan seharusnya hanya dijalani oleh mereka yang siap. Siap secara mental, ekonomi, dan komitmen jangka panjang. Menikah karena tekanan usia atau omongan orang lain sama saja dengan menyerahkan hidup pada penilaian sosial, tanpa benar-benar mengenal diri sendiri. Itu seperti masuk ke medan perang tanpa persiapan dan latihan yang memadai—berisiko hancur dengan sia-sia.

Jika pernikahan selalu identik dengan kebahagiaan dan pencapaian hidup, angka perceraian tentu tidak akan setinggi hari ini. Belum lagi persoalan anak yang lahir dari pernikahan yang tidak siap. Ketika kebutuhan mereka—bukan hanya makanan, tetapi juga pendidikan, tempat tinggal layak, kasih sayang, dan hak bermain—tak terpenuhi, maka yang terjadi adalah bentuk penelantaran. Dan itu merupakan kejahatan.

Menikah, belum menikah, atau tidak menikah sama-sama memiliki sisi baik dan tantangannya masing-masing. Tidak perlu dipertandingkan. Bagi mereka yang bahagia dengan pernikahan, jalani dengan tanggung jawab dan kesadaran penuh. Namun penting diingat, tidak semua orang dilahirkan untuk menikah. Pernikahan bukan tujuan hidup semua orang, dan tidak cocok untuk semua orang.

Pertanyaan “kapan kawin” atau “kapan nikah” sejatinya adalah rasa penasaran yang tidak perlu diungkapkan. Dalam keberadaan perempuan lajang, masyarakat justru bisa belajar bahwa yang paling penting dalam hidup adalah berdaya, berdampak, sehat, dan bahagia dengan pilihan sendiri—apa pun bentuk pilihan itu.

Penulis aktif di Perkamen.

One thought on “

  1. Ia betul pertanyaan kayak gitu kapan nikah? di hilangkan dri muka bumi ini….lagipula suka suka ..siapa dong mau nikah atau tidak…mang efek😏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *