Peringatan Isra Mikraj di Universitas ST Bhinneka, Sofyan Tan: Pintar Saja Tidak Cukup

Bagikan Artikel

MEDAN, BONARINEWS.COM– Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), dr. Sofyan Tan, menegaskan bahwa salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan fondasi utama dalam membentuk akhlak, kedisiplinan, dan nilai kemanusiaan. Pesan tersebut disampaikannya dalam peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang digelar Universitas ST Bhinneka, Sabtu (24/1/2026).

Peringatan Isra Mikraj yang mengusung tema “Menguatkan Nilai Inklusif dan Kemanusiaan untuk Pembangunan Manusia yang Holistik Meneladani Semangat Isra Mikraj” itu berlangsung di halaman parkir Kampus Universitas ST Bhinneka, Jalan TB Simatupang, Medan. Kegiatan ini menjadi agenda rutin keluarga besar YPSIM sebagai bagian dari komitmen membangun toleransi, kebersamaan, dan nilai kebangsaan di lingkungan pendidikan.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut menjelaskan bahwa peringatan hari besar keagamaan di bawah naungan YPSIM merupakan implementasi nyata nilai-nilai Pancasila, khususnya Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Persatuan Indonesia.

Dalam pesannya, Sofyan Tan mengingatkan civitas akademika agar tidak menjalani agama secara formalitas semata. Menurutnya, peringatan Isra Mikraj yang hanya dilaksanakan setahun sekali harus dimaknai secara mendalam dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita jangan hanya menjadi Islam KTP. Yang kita teladani adalah kebaikan dan akhlak Nabi Muhammad SAW. Pintar saja tidak cukup. Kalau akhlaknya tidak baik, ibarat mobil bagus tapi sopirnya ugal-ugalan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar, tidak hanya mencetak mahasiswa yang unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak mulia. Selama lebih dari 45 tahun berkecimpung di dunia pendidikan, Sofyan Tan mengaku selalu konsisten menghadiri dan mendukung kegiatan keagamaan seperti Isra Mikraj, Maulid Nabi, buka puasa bersama Ramadan, hingga halal bihalal Idulfitri.

Sofyan Tan juga mengulas makna penting perintah salat lima waktu yang diterima Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra Mikraj. Menurutnya, salat mengandung empat nilai utama, yaitu kedisiplinan, kebersihan, ketaatan kepada Tuhan, serta pengendalian emosi.

“Salat mengajarkan disiplin waktu, seperti bangun Subuh yang menyehatkan. Salat juga mengajarkan kebersihan melalui wudu, ketaatan kepada Allah, dan pengendalian emosi dalam kehidupan sosial,” jelasnya.

Ia meyakini, apabila nilai-nilai tersebut benar-benar dipraktikkan, maka kehidupan bermasyarakat dan bernegara akan lebih harmonis dan aman. “Yang kita harapkan adalah Islam yang toleran, berakhlak, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Peringatan Isra Mikraj di Universitas ST Bhinneka ini menghadirkan penceramah Ustad Dianto, M.Pd. Acara tersebut turut dihadiri Ketua YPSIM Finche Kosmanto, Rektor Universitas ST Bhinneka Bobby C. Halim, jajaran wakil rektor, dekan, ketua program studi, dosen, serta mahasiswa.(*)

Penulis: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *