BONARINEWS.COM, Medan — Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, Sutarto, mendorong Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama Pemerintah Pusat untuk mengkaji kembali rencana pembangunan jalan tol Medan–Berastagi. Menurutnya, kebutuhan akan jalur alternatif di kawasan tersebut semakin mendesak seiring seringnya terjadi kemacetan di jalur utama.
Dalam keterangan tertulis kepada awak media, Sutarto menyebut jalur Medan–Berastagi saat ini kerap mengalami kemacetan parah. Kondisi tersebut diperparah ketika terjadi kecelakaan, banjir, atau tanah longsor, yang menyebabkan arus lalu lintas terhenti hingga berjam-jam.
Ia menilai, sudah saatnya pemerintah kembali membuka kajian pembangunan tol Medan–Berastagi yang dapat terhubung dengan sejumlah ruas tol lain, seperti Tol Medan–Siantar–Danau Toba dan Tol Medan–Binjai. Selain itu, pemerintah juga didorong untuk melanjutkan pembangunan jalan alternatif Medan–Berastagi melalui Kutalimbaru.
Sutarto menjelaskan, kemacetan yang sering terjadi sangat melelahkan bagi pengguna jalan dan berdampak langsung pada aktivitas perekonomian. Padahal, kawasan Tanah Karo dikenal sebagai daerah wisata sekaligus sentra penghasil sayur dan buah-buahan yang membutuhkan kelancaran distribusi.
Ia juga memaparkan sejumlah titik rawan kemacetan di sepanjang jalur Medan–Berastagi, di antaranya Simpang Selayang, Lau Cih atau kawasan Hairos, Pancur Batu, Sembahe, Sibolangit hingga kawasan Hillpark, Bandar Baru, Doulu, dan Tugu Jeruk Tongkoh.
Karena jalur Medan–Berastagi merupakan jalan nasional, Sutarto menegaskan bahwa pendanaannya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat melalui APBN. Ia berharap pemerintah pusat memberi perhatian serius agar masyarakat memiliki alternatif jalur yang lebih aman dan lancar.
Sutarto juga menyinggung pembangunan jalan Medan–Berastagi melalui Kutalimbaru yang telah dimulai pada akhir 2023. Jalur tersebut memiliki panjang sekitar 55,87 kilometer, lebih pendek dibandingkan jalur utama yang mencapai 76 kilometer, serta dinilai lebih landai dan berpotensi mempercepat waktu tempuh. Namun, hingga kini pembangunannya masih terhenti dan membutuhkan kelanjutan, termasuk pembangunan jembatan penghubung.
Menurutnya, pemerintah perlu segera mengkaji percepatan realisasi salah satu dari dua alternatif tersebut, baik tol Medan–Berastagi maupun penyelesaian jalur Kutalimbaru. Jika salah satunya terealisasi secara penuh, diyakini dapat mengurangi beban lalu lintas di jalur utama.
Sutarto menambahkan, terwujudnya infrastruktur tersebut akan berdampak positif terhadap peningkatan daya saing wilayah utara Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba, khususnya yang terhubung dengan Kabupaten Karo dan Dairi.
Pewarta: Dedy Hu