Bonarinews.com, JAKARTA — Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan agar semua pihak menghormati hukum internasional menyusul aksi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela. Sekretaris Jenderal PBB melalui juru bicaranya, Stéphane Dujarric, menilai eskalasi terbaru di negara tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius bagi stabilitas kawasan.
Dalam keterangan resmi pada Minggu, 4 Januari 2026, Dujarric menyatakan bahwa aksi militer Amerika Serikat di Venezuela merupakan preseden berbahaya. Ia menegaskan pentingnya kepatuhan penuh terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB.
“Eskalasi terbaru di Venezuela, dengan aksi militer Amerika Serikat di negara tersebut, berpotensi menimbulkan implikasi yang mengkhawatirkan bagi kawasan,” kata Dujarric.
PBB juga mendorong seluruh pihak di Venezuela untuk menempuh jalur dialog yang inklusif, dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia dan supremasi hukum. Menurut Dujarric, penghormatan terhadap prinsip-prinsip tersebut menjadi kunci untuk mencegah memburuknya situasi.
Seruan PBB itu muncul setelah Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, melancarkan operasi militer ke Venezuela dengan sandi Operation Absolute Resolve pada Sabtu, 3 Januari 2026. Dalam operasi tersebut, Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores ditangkap di kediaman mereka.
Keduanya dilaporkan telah dibawa ke Amerika Serikat dan mendarat di sebuah pangkalan militer dekat New York. Maduro disebut berstatus sebagai tahanan federal dengan pengamanan ketat dan akan ditempatkan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn.
Media Amerika melaporkan, Maduro dijadwalkan menghadapi persidangan di pengadilan federal Manhattan pekan depan. Ia bersama Cilia Flores didakwa di Distrik Selatan New York atas sejumlah tuduhan, termasuk konspirasi terorisme narkoba, impor kokain, serta kepemilikan senapan mesin dan bahan peledak.
Presiden Trump, melalui platform Truth Social, menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengelola proses transisi kekuasaan di Venezuela hingga tercapai apa yang disebutnya sebagai transisi yang aman. Trump juga menyebut bahwa Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan asal negara itu akan menyita minyak Venezuela dan menjualnya ke negara lain.
Sementara itu, laporan BBC pada Minggu pagi waktu Indonesia menyebutkan bahwa Maduro telah tiba di Metropolitan Detention Center Brooklyn, fasilitas federal dengan tingkat keamanan tinggi yang selama ini menahan tersangka kasus terorisme dan kejahatan narkotika internasional. Sidang perdana atas kasus tersebut disebut akan digelar dalam waktu dekat. (Redaksi)