Tapanuli Tengah, Bonarinews.com — Longsor menutup jalan, hujan belum berhenti, dan listrik padam total. Di Desa Hutanabolon dan Desa Huraba, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, bencana bukan hanya merobohkan rumah, tetapi juga memutus dua kebutuhan paling mendasar: air bersih dan penerangan.
Dalam situasi itu, bantuan tidak datang dalam bentuk seremonial. Universitas Negeri Medan memilih membawa solusi yang langsung bekerja. Melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana, Unimed menembus wilayah terisolasi untuk menyalurkan bantuan berbasis teknologi: panel surya, generator set, dan alat penyaring air bersih.
Tim dilepas oleh Rektor Unimed Baharuddin dengan dukungan pendanaan dari DPPM Kemdiktisaintek. Dua set panel surya hibah dari PUI-PT Innerwise LPPM Unimed dipasang sebagai sumber listrik darurat. Bagi warga, perangkat itu bukan sekadar teknologi, melainkan alat untuk menghidupkan kembali komunikasi, penerangan malam, dan rasa aman di pengungsian.
Hujan lebat masih mengguyur saat tim tiba di perbatasan desa. Di bawah koordinasi Danposko Pelda Raynol Hermes Tambunan, dosen, mahasiswa, dan warga bekerja bersama menurunkan logistik. Tidak ada panggung. Tidak ada pidato panjang. Bantuan langsung diarahkan ke titik-titik yang paling membutuhkan.
Ketua Tim PkM Unimed Roni Sinaga mengatakan fokus utama tim adalah pemulihan kebutuhan dasar. Infrastruktur desa lumpuh akibat longsor, sementara akses air bersih dan listrik menjadi persoalan paling mendesak. “Kami membawa teknologi yang bisa langsung digunakan di kondisi darurat,” kata Roni.
Selain perangkat energi dan air bersih, Unimed juga mendistribusikan logistik serta pakaian layak pakai dari Fakultas Bahasa dan Seni. Tim gabungan berasal dari berbagai fakultas—teknik, pendidikan, kedokteran, hingga keolahragaan—menandai pendekatan lintas disiplin dalam penanganan bencana.
Bagi warga, bantuan itu terasa konkret. Panel surya dan genset memberi penerangan saat malam, sementara filter air memastikan kebutuhan konsumsi terpenuhi. Di tengah desa yang gelap dan basah, teknologi sederhana justru menjadi pembeda antara bertahan dan pulih.
Unimed menyebut kegiatan ini bukan akhir. Hasil observasi lapangan akan menjadi dasar program lanjutan pemulihan pascabencana berbasis inovasi. Di Tukka, kampus hadir bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai bagian dari rantai penyelamat ketika negara dan alam sedang diuji. (Redaksi)