Deli Serdang, Bonarinews.com – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, mengajak mahasiswa dari berbagai kampus untuk terjun membantu para korban bencana dengan semangat gotong royong. Ia menyebut gerakan itu sebagai wujud “menangis dan tertawa bersama rakyat,” sebagaimana instruksi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar seluruh kader turun ke bawah.
“Inilah kekuatan gotong royong. Kita gerakkan anak-anak muda generasi masa depan bangsa untuk menangis dan tertawa bersama rakyat membantu korban bencana,” ujar Sofyan Tan di Dapur Umum PAMAS dr. Sofyan Tan STOK Binaguna, Jalan Yusuf Jintan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Sabtu (29/11).
Didampingi Ketua PAC PDI Perjuangan Percut Sei Tuan, Nico SH, Sofyan Tan meninjau sejumlah dapur umum yang dibangun di wilayah terdampak banjir di Medan dan Deli Serdang. Dapur umum itu tersebar di berbagai kampus, di antaranya UNIKA St. Thomas, UCM Bambu I, Politeknik MBP, Kampus Methodist, Wilmar, Universitas Murni Teguh, hingga STOK Binaguna, serta pos-pos relawan di Kwala Bekala, Lalang Sunggal, dan Cinta Damai.
Sebelumnya, Sofyan Tan juga meninjau SMA St. Ignatius di Medan Helvetia yang terendam banjir hingga dua meter. Ruang kelas di lantai dasar rusak berat, dipenuhi lumpur, dan sejumlah fasilitas, termasuk dua TV smart board baru, ikut terendam. Melihat kondisi itu, Sofyan Tan menggerakkan mahasiswa penerima KIP Kuliah yang tengah bertugas di dapur umum untuk membantu membersihkan sekolah.
“Ini semangat gotong royong. Ada yang siapkan dapur umum, ada yang bantu membersihkan sekolah agar anak-anak bisa segera kembali belajar,” katanya.
Dalam kunjungannya, Sofyan Tan menyoroti bahwa bencana ini bukan hanya dipicu siklon tropis Senyar, tetapi juga kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar, perambahan hutan, dan pengelolaan sampah yang buruk. Menurutnya, kerusakan di hulu membuat air tak lagi tertahan akar pohon, sementara di hilir pendangkalan sungai dan drainase tersumbat sampah memperparah banjir.
Ia menilai pemerintah perlu mengambil langkah berani untuk menghentikan pembalakan liar, menutup izin-izin yang merusak ekosistem, serta menegakkan aturan pengelolaan sampah secara tegas.
“Ini sudah menjadi bencana ekologis yang berulang. Tahun lalu terjadi, dan hari ini dampaknya lebih besar. Artinya, harus ada kebijakan tegas untuk menghentikan kerusakan lingkungan dan menata pengelolaan sampah di masyarakat,” tegas Sofyan Tan, yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Ekosistem Lestari (YEL).
